Pengungsi Rohingya mengaku kapok naik perahu menuju Australia

Abu Ahmad

Harapannya tetap sama; ditempatkan di negara ketiga atau pulang ke Myanmar dengan syarat etnik Rohingya diakui penuh sebagai warga negara dan dipulihkan hak-haknya di negeri yang ia tinggalkan ketika masih berusia lima tahun.
Abu Ahmad kini berusia 32 tahun, tercatat sebagai pengungsi Rohingya di bawah perlindungan Badan Pengungsi PBB (UNHCR).
Ketika BBC Indonesia pertama kali mewawancarainya pada April 2015, ia berkisah bagaimana tekadnya untuk mencari perlindungan dan kehidupan lebih baik ia nekad membayar agen untuk menyelundupkannya ke Australia.
Kini ia tetap menjadi pengungsi yang ditampung sementara di Medan dan telah melalui proses wawancara UNHCR untuk program pemukiman kembali di negara ketiga walaupun belum tahu kapan dan nama negara tujuan.
“Saya sabar menunggu saja penempatan di mana pun. Tapi kalau diminta memilih, saya ingin ke Inggris atau Australia,” katanya di Medan pada Senin (22/02).
Abu Ahmad
Image captionAbu Ahmad pada April 2015 ketika ditemui BBC Indonesia untuk kali pertama.
Abu Ahmad dan istri
Image captionSetelah menikah dan memiliki anak, kata Abu Ahmad, ia jera mencoba masuk ke Australia lewat laut.
Sebelumnya ia pernah mencoba mengarungi laut dengan kapal bersama para pengungsi lain dari Malaysia lewat Indonesia untuk mencoba masuk ke Australia tetapi usaha tersebut gagal dan akhirnya ia ditahan pihak berwenang Indonesia.
Namun sekarang setelah beristri warga negara Indonesia dan mempunyai dua orang anak, Abu Ahmad mengaku tidak akan nekad seperti dulu.
“Saya tak punya rencana seperti itu karena saya sudah punya anak dan istri yang saya nikahi di sini. Saya berharap yang terbaik buat anak-anak saya, bisa sekolah. Harapan untuk anak-anak lebih penting dibandingkan saya," ujarnya kepada BBC Indonesia.
Abu Ahmad
Image captionMenurut Abu Ahmad, ia tak memasalahkan negara mana saja yang bersedia menampungnya selamanya.

Kebijakan keras Australia

Abu Ahmad tercatat sebagai salah satu dari 4.400 pengungsi yang terdaftar di UNHCR Indonesia, berdasarkan data Badan Pengungsi PBB itu per Februari 2015. Mayoritas mereka adalah pengungsi dari Afghanistan yang mencapai 40%. Adapun kelompok terbesar kedua adalah pengungsi dari Myanmar sebesar 17% yang pada umumnya etnik Rohingya.
Selain itu terdapat setidaknya 7.300 pencari suaka, mereka yang status belum diakui sebagai pengungsi.
Semula mereka hendak mencari perlindungan dan kehidupan lebih baik di Australia, tetapi belakangan negara itu menerapkan kebijakan lebih keras dengan mengusir perahu-perahu pengungsi dan menutup pintu bagi pengungsi yang tiba lewat laut.
Karena bukan penandatangan Konvensi Pengungsi PBB tahun 1951, Indonesia tidak berkewajiban mengambil pengungsi sebagai warga negara dan hanya menjadi negara transit.
Namun kuota pemukiman kembali yang tersedia hanya sekitar 100.000 untuk pengungsi di seluruh dunia, sehingga sebagaimana dikatakan oleh Wakil UNHCR di Malaysia, Richard Towle, peluang penempatan di negara ketiga tipis bagi sebagian besar pengungsi.
Share on Google Plus
    Komentar Anda
    Komentar Menggunakan Facebook

0 comments :

Post a Comment