Aplikasi 'Wildlife Witness' Sebagai Sarana Turis Laporkan Perdagangan Satwa Liar

Penyu bintang India adalah reptil yang banyak dicari di pasar gelap. (Credit: ABC)
INDOAU.COM – ‘Wildlife Witness’ merupakan sebuah aplikasi buatan Australia untuk melaporkan dan menindak perdagangan satwa liar guna melawan perdagangan ilegal global yang jumlahnya melonjak.

Tahun lalu aplikasi milik Kebun Binatang Taronga sudah menghasilkan lebih dari 500 laporan intelijen.

Aplikasi ini memungkinkan penduduk lokal dan juga wisatawan melaporkan perdagangan satwa liar ilegal lewat pengambilan gambar, merekam lokasi dimana insiden terjadi dan mengirimkannya kepada TRAFFIC – jaringan pemantau perdagangan satwa liar global.

Analisis data kejahatan satwa liar digunakan TRAFFIC untuk memindai dan mengkompilasi laporan kepada pemerintah.

Direktur TRAFFIC wilayah Asia Tenggara, Dr Chris Shepherd mengatakan bahwa masyarakat telah menggunakan aplikasi tersebt untuk melapokan segala sesuatunya mulai dari hewan yang dijual, anggrek langka bahkan gading gajah di pasaran.

"Kami bisa menggunakannya tak hanya untuk membantu upaya penegakan hukum, tetapi juga untuk lebih memahami bagaimana para penyelundup bekerja dan di mana transaksi itu terjadi," jelasnya.

Ia mengatakan bisnis perdagangan satwa liar global melonjak.

"Ini benar-benar berada pada tingkat krisis," ungkapnya.

Dr Chris menerangkan, "Tapi perdagangan satwa liar tak pernah menjadi sorotan seperti dalam beberapa tahun terakhir. Para pemimpin global berbicara dan bekerja sama untuk melakukan sesuatu tentang hal itu. Jadi semuanya bergerak ke arah yang benar. Hanya saja kami tak bergerak cukup cepat."

Cameron Kerr, Direktur Kebun Binatang Taronga, mengatakan bahwa hewan Australia seperti echidna merupakan sasaran empuk dalam perdagangan satwa liar. Mereka menjualnya kepada orang yang mencari hewan peliharaan eksotis.

"Burung-burung indah yang kami miliki, echidna dan reptil, yang begitu istimewa, berada dalam ancaman juga. Apa yang tak kami sadari adalah betapa banyak satwa liar yang indah ini berakhir di perdagangan ilegal di Asia Tenggara," kemukanya.

[MZ]

Share on Google Plus
    Komentar Anda
    Komentar Menggunakan Facebook

0 comments :

Post a Comment