Narapidana Teroris Tawarkan Bantuan Pembebasan 10 WNI yang disandera Kelompok Abu Sayyaf

Umar Patek (Foto: Jhoni Hutapea)

INDOAU.COM – Berbagai upaya tengah dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk membebaskan 10 WNI yang di sandera oleh kelompok Abu Sayyaf. Pemerintah tengah memikirkan jalan untuk bernegosiasi dan masih berkoordinasi dengan otoritas dari Filipina, namun menolak untuk memberikan uang tebusan sejumlah yang diminta oleh penyandera.

"Masih bicara dengan pemerintah Filipina. Mudah-mudahan bisa cepat selesailah," ujar Wakil Presiden Jusuf Kalla di Kantor Wapres Jl Medan Merdeka Utara, Jakpus, Senin (11/4/2016).

Prioritas pemerintah adalah keselamatan para sandera, namun Filipina masih belum mengizinkan TNI masuk ke wilayahnya untuk membebaskan para sandera.

JK juga menegaskan bahwa perang yang terjadi antara militer Filipina dengan kelompok Abu Sayyaf tidak ada kaitannya dengan penyanderaan WNI.

"Sama sekali tidak. Itu di tempat lain, di pulau lain," katanya.

Tebusan yang diminta yaitu sebesar 50 juta peso atau setara dengan Rp 15 miliar untuk 10 orang sandera. Sepuluh orang ini adalah awak kapal tugboat Brahma 12 yang menarik kapal tongkang Anand 12 yang berisi 7.000 ton batubara. Tugboat dilepaskan namun kapal Anand 12 dan 10 orang WNI disandera. Dan Anand 12 berhasil ditemukan pasukan Keselamatan Pantai Timur Sabah pada tangggal 3 April di sekitar 15 mil dari Pulau Mataking.

Tak hanya pemerintah, bahkan narapidana teroris Umar Patek pun menawarkan bantuan untuk membebaskan 10 sandera tersebut. Namun pemerintah belum menerima tawaran itu.

"Ya ada beberapa tawaran untuk membantu bebaskan 10 WNI di Filipina. Tapi kita perlu lakukan verifikasi terlebih dahulu," kata Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia, Lalu M Iqbal, di kantor Kemenlu, Jl Pejambon, Jakarta Pusat, Senin (11/4/2016).

Namun tidak ada keterangan yang rinci maksud dari verifikasi tersebut.

Umar Patek sendiri sebelumnya disebut-sebut dekat dengan kelompok Abu Sayyaf karena ia pernah menetap di Filipina setelah kejadian bom Bali, ia juga pernah mendapat pelatihan di Mindanao, Filipina.

Menlu Retno mengatakan hingga saat ini kondisi 10 sandera  dalam keadaan baik.

"Sejak kontak senjata yang dilakukan oleh militer Filipina dengan kelompok Abu Sayyaf. Kita selalu mengintensifkan komunikasi. Selain itu kita juga selalu memohon doa untuk 10 WNI dalam segala upaya bisa selamat dan pulang ke Indonesia," kata Menlu Retno usai penyampaian press briefing.

[MZ]
Share on Google Plus
    Komentar Anda
    Komentar Menggunakan Facebook

0 comments :

Post a Comment