Cerita Kepindahan Atlet Kelahiran Manado ke Australia Hingga Kini Menjadi Wakil Bulu Tangkis Australia


INDOAU.COM – Atlet bulutangkis kelahiran Manado, Setyana Daniella Florencia Mappasa, kini jadi pebulutangkis naturalisasi Australia di BCA Indonesia Open Superseries Premier 2016 yang akan di Istora Senayan, Jakarta, 30 Mei – 5 Juni.

Jika sebelumnya ia menjadi teman duet Rosyita Eka Putri Sari untuk membela Indonesia, kini ia harus melawan Indonesia.

Salah satu alasan ia pindah ke Australia adalah keluarga.
"Sebenarnya saya sangat suka di Indonesia, tapi ada satu-dua hal yang membuat saya harus ke Australia, salah satunya adalah keluarga banyak yang tinggal di sana,"  kata Setyana di Kedutaan Besar Australia, Kamis (26/5).

Sempat Berhenti Bermain Bulutangkis

Atlet yang biasa disapa Tyana ini ternyata pernah mengalami ‘meniscus injury’ (cedera bantalan lutut) yang cukup parah sehingga membuat ia putus asa dan berhenti bermain bulutangkis.

Ia sempat mencoba mengobati cederanya di Indonesia, namun ia divonis harus menempuh jalan operasi. Ia menolaknya, dan memutuskan untuk mencari tempat pengobatan di tempat lain. Ia mendapat rekomendasi untuk melakukan terapi di pusat rehabilitasi atlet di Australia.

“Sambil terapi, saya daftar kuliah jurusan Manajemen di sebuah college di Sydney. Ternyata saya nggak bisa dipisahkan sama bulu tangkis, di sana masih sering main bulu tangkis sama saudara dan teman-teman saya. Bahkan saya pernah tanding di turnamen sekelas Sirnas di Australia,” kata Tyana.

“Sejak main bulu tangkis lagi, saya makin sadar kalau saya masih belum mau pensiun, saya masih mau jadi atlet bulu tangkis. Saat itu saya merasa sedih sekali, apalagi kalau melihat foto teman-teman Indonesia saat mereka bertanding, sampai saya pernah menangis karena saya juga ingin seperti mereka.” ujarnya.

Ditawari Permanent Resident dan Bermain Dibawah Bendera Australia

Karena bakat yang dimilikinya, ia pun ditawari bermain untuk Australia dan mendapat status Permanent Resident (PR).

Permanent Resident adalah izin tinggal tetap berbentuk visa yang berlaku selama lima tahun. Pemegang visa akan diberikan fasilitas yang sama dengan warga negara Australia, diantaranya tunjangan pendidikan, kesehatan, tunjangan sosial serta memiliki hak untuk menjadi warga negara.

“Karena ingin sekali kembali ke bulu tangkis, saya sempat mengiyakan tawaran ini, apalagi bisa sambil sekolah. Tapi main bulu tangkis di Indonesia dan Australia sangat berbeda rasanya. Dari latihan saja sudah lain, di Indonesia lebih ada rasa kekeluargaan, di Australia lebih individual. Di sana bulu tangkis tidak populer, mau latihan harus pasang karpet dan net sendiri. Kalau tanding juga bawa linesman sendiri karena biaya menggaji linesman mahal” jelas Setyana.

Memutuskan Bermain Untuk Australia

Setelah mendengar saran dari berbagai pihak dan pertimbangan matang, kini ia melanjutkan petualangannya di Australia dan bersedia untuk bermain membawa bendera Australia.

Ia juga melanjutkan kuliah sebagai fokus utamanya dan menjalani terapi untuk memulihkan cederanya.

Bermain Melawan Rekan

Indonesia Open Superseries Premier jadi ajang pertama ia melawan rekan-rekannya. Disebutnya Indonesia adalah negara yang memiliki segudang pebulutangkis hebat. Salah satunya Greysia Polii yang diwaspadai Tyana saat bermain nanti.

Meski belum pernah berjumpa, namun prestasi mendunia Greysia membuat ia grogi jika nanti bertemu.

Sebenarnya sih biasa saja, tapi emosional juga. Saya belum pernah lawan dia (Greysia) dan tak tahu cara untuk melawannya. Tapi saya sering melihat pertandingannya, dia sangat bagus," tandasnya.

Artikel terkait :
Atlet Kelahiran Manado Jadi Lawan Indonesia di Indonesia Open 2016

[MZ]
Share on Google Plus
    Komentar Anda
    Komentar Menggunakan Facebook

0 comments :

Post a Comment