Indonesia Jadi Topik Debat Dalam Kampanye Pemilu Australia 2016


Debat kampanye hari Rabu (25/5/2016), (dari kiri) Pemimpin Partai Hijau Richard Di Natale, Pemimpin Partai Nasional Barnaby Joyce, dan Joel Fitzgibbon dari Partai Buruh. (Foto: Alkira Reinfrank) (Credit: ABC)


INDOAU.COM – Dalam kampanye pemilu Australia 2016, Indonesia jadi topik perdebatan terkait kebijakan terdahulu pemerintah Australia yang pernah menghentikan ekspor sapi ke Indonesia, dan maraknya penyelundupan manusia dari perairan Indonesia ke Australia.

Debat tersebut melibatkan pemimpin Partai Nasional Barnaby Joyce, politisi Partai Buruh Joel Fitzgibbon, serta pemimpin Partai Hijau Richard Di Natale itu berlangsung di kota pedalaman Goulburn, Rabu (25/5/2016) malam.

Tpik debat yang digelar lembaga penyiaran publik ABC dan dimoderatori oleh wartawan politik Chris Uhlmann itu menyangkut isu terkait kehidupan di pedalaman Australia, termasuk ekspor ternak hidup.

Dalam forum tersebut Barnaby Joyce yang juga Wakil Perdana Menteri merangkap Menteri Pertanian Australia, mengatakan di saat Australia menjadi penyuplai kebutuhan daging di Indonesia yang terbesar di tahun 2011, Pemerintah PM Julia Gilliard dari Partai Buruh pada saat itu tiba-tiba menghentikan kebijakan ekspor ternak hidup ke Indonesia.

Kebijakan tersebut diterapkan setelah adanya kekejaman perlakuan terhadap sapi-sapi di 12 rumah pemotongan hewan (RPH) di sejumlah kota di Indonesia.

"Saya ingin mengingatkan kita semua, bahwa saat kita menghentikan ekspor ternak, maka pada yang bersamaan kita mulai melihat datangnya banyak perahu (pencari suaka) ke Australia," kata Menteri Joyce.

"Mereka (Indonesia) menganggap kita (Australia) sebagai mitra dagang terpercaya; namun dalam sekejap saja kita justru membuktikan sebaliknya. Kita menciptakan citra yang buruk di kawasan," jelasnya.

Pernyataan Menteri Joyce mengundang rekasi luas di Australia.

Kamis (26/5/2016) pagi, kepada sebuah stasiun TV Menteri Joyce membantah bahwa dirinya menguhung-hugungkan penghentian ekspor sapi ke Indonesia dengan jumlah kedatangan perahu pencari suaka ke Australia dan Indonesia.

"Saya tidak pernah mengatakan bahwa Indonesia sengaja mengirimkan perahu-perahu itu gara-gara kita menghentikan ekspor sapi ke Indonesia," katanya.

"Yang saya katakan adalah, penghentian ekspor secara sepihak tersebut membuat posisi Australia jadi sulit dalam melakukan negosiasi dengan Indonesia ketika itu," jelasnya.

Hal senada dikemukakan Menteri Perbendaharaan Negara (Treasurer) Scott Morrison. "Barnaby hanya menyatakan dampak dari gagalnya kebijakan perlindungan perbatasan di bawah pemerintahan Partai Buruh," katanya.

Dan Tehan, Politisi Partai Liberal yang merupakan bagian koalisi dengan Partai Nasional, secara terpisah mendukung pernyataan Barnaby Joyce.

"Barnaby hanya mengingatkan, jika anda menjalin hubungan dengan mitra penting seperti Indonesia, maka anda harus memperlakukan mereka dengan penuh rasa hormat," kata Tehan.

Di sisi lain, pemimpin Opisisi Bill Shorten menuding pernyataan Barnaby Joyce sebagai pernyataan “konyol”.

"Saya belum pernah mendengar sebelumnya ada pihak yang menghubungkan penghentian ekspor ternak itu dengan kedatangan perahu pencari suaka," kata pemimpin Partai Buruh ini.

Sementara itu, PM Malcolm Turnbull mengatakan, "Tidak ada kaitan antara Pemerintah Indonesia dengan penyelundupan manusia" dan menyatakan sangat menghargai kepemimpinan Presiden Joko Widodo.

Secara terpisah, Dubes RI di Australia Nadjib Riphat mengatakan bahwa pemerintah Indonesia juga tidak melihat adanya keterkaitan antara penghentian ekspor ternak ke Indonesia dengan meningkatnya jumlah kedatangan perahu pencari suaka ke Australia saat itu.

"Pemerintah Indonesia telah dan akan terus menjadi bagian dari solusi regional terhadap masalah penyelundupan manusia," katanya.

Pekan ini adalah minggu ketiga musim kampanye Pemilu Australia yang dijadwalkan 2 Juli Mendatang.

[MZ]


Share on Google Plus
    Komentar Anda
    Komentar Menggunakan Facebook

0 comments :

Post a Comment