Mensos : Pemerkosa Gadis di Bengkulu Harus di Kebiri dan disebarkan Foto Wajahnya

Foto: Jabbar Ramdhani

INDOAU.COM – Menteri Sosial Republik Indonesia Khofifah Indar Parawansa mngatakan bahwa tersangka pembunuhan dan pemerkosaan keji terhadap gadis 14 tahun di Bengkulu harus mendapat hukuman sosial disamping hukuuman pidana. Foto wajah mereka harus disebarluaskan kepada publik agar diketahui masyarakat.

"Kalau di banyak negara sebetulnya ada yang sudah memberikan social punishment. Ini diberikan dalam bentuk menyebarkan fotonya di ruang-ruang publik," ujar Khofifah di sela kunjungannya ke Rejang Lebong, Bengkulu untuk menemui keluarga Y, korban pembunuhan dan pemerkosaan, Jumat (6/5/2016).

Selain penyebaran foto pelaku, hukuman kebiri dipercaya dapat memberi efek jera terhadap pelaku kasus tersebut.

"Ini adalah tambahan hukuman. Bisa dalam bentuk zat kimia yang menidurkan saraf libidonya yang variatif 10, 12 ada juga yang 15 tahun," sambungnya.

Penuh Ilalang, Ini Lokasi Pemerkosaan dan Pembunuhan Keji di Bengkulu
Lokasi pembunuhan dan pemerkosaan korban di Rejang Lebong, Bengkulu/Foto: Jabbar Ramdhani

Hukuman tersebut sebenarnya sedang digodok pemerintah melalui penyusunan Perppu. Namun hingga saat ini Perppu tentang hukuman kebiri masih belum disahkan.

"Proses yang sekarang juga sedang dikoordinasikan oleh Menko PMK, terhadap draf Perppu kebiri. Kita sedang menunggu paraf dari masing-masing kementerian. Ada 2 draf di situ. Ada yang terkait dengan saraf libido dikebiri apakah dengan mengoleskan dengan bahan kimia ada juga yang dengan draf pemberatan. Artinya pemberatan hukuman seumur hidup atau hukuman mati apabila dikenakan hukuman berlapis," terang Khofifah.

Khofifah juga mengatakan kasus pemerkosaan terhadap anak dipicu oleh beberapa faktor seperti pornografi dan pengaruh minuman keras (miras), oleh karena itu DPR diminta untuk ikut berperan menyusun regulasi pembatasan miras.

"Saya ingin menyampaikan kepada Pansus Minol (minuman beralkohol) di DPR, mari kita melihat ekses dari minol dari kemungkinan kebahayaan dan kekerasan seksual sampai juga yang menyebabkan kematian. Supaya Pansus tidak segan-segan membuat regulasi yang bersifat imperatif (keharusan)," tutur Khofifah.

[MZ]
Share on Google Plus
    Komentar Anda
    Komentar Menggunakan Facebook

0 comments :

Post a Comment