Pelajar Internasional Dapatkan Akomodasi Buruk dan Dimanfaatkan Keluarga Angkat di Australia

(Foto: AFP, Saeed Khan) (Credit: AFP)

INDOAU.COM – ‘Homestay Network’, penyedia layanan homestay Australia, melaporkan dalam 12 bulan terakhir terjadi peningkatan sebanyak 20 persen siswa asing yang ingin tinggal bersama keluarga Australia untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris mereka agar dapat beradaptasi dengan mudah.

Tuan rumah harus memenuhi syarat dengan akomodasi bebas sewa, minimal memiliki satu kamar pribadi, lengkap dengan tempat tidur dan meja. Keluarga angkat ini juga harus menyediakan makan setidaknya dua kali sehari.

Tuan rumah ini nantinya berhak menerima sekitar 1000 dolar atau setara Rp 10 juta per bulan.

Tuan rumah sebagian besar mematuhi untuk tidak menerima lebih dari dua pelajar atau mahasiswa internasional, namun koordinator homestay di Queensland, mengatakan mereka justru memanfaatkan sejumlah siswa untuk membantu mereka membayar cicilan rumah.

"Ini terjadi di mana kami punya homestay yang ingin agar siswa membantu membayar cicilan rumah," sebutnya.

"Mungkin ada empat sekolah di wilayah itu yang semuanya mereka [keluarga penampung] bisa terdaftar. Mereka akan berusaha untuk mendapatkan siswa dari tiap sekolah."

Juru bicara Dewan Pelajar Internasional Australia, Dorothy Tang, mengatakan bahwa dirinya pernah mengalami diskriminasi saat keluarga angkatnya dua tahun yang lalu “tak memberikan makanan yang cukup”.

"Katakanlah, keluarganya diberi pasta untuk makan, saya hanya diberi satu porsi dari itu. Dalam hal ini, saya didiskriminasi, dan saya merujuknya ke agen homestay dan mereka membereskannya setelah itu," kata Dorothy.

"Setelah itu, saya berbicara dengan keluarga saya dan pada akhir bulan kedua, kami pergi jalan-jalan bersama dan hidup layaknyakeluarga setelah itu," lanjutnya.

Selain Dorothy, mahasiwa pemasaran dan psikologi asal Nepal, Lok Wong, mengaku dirinya ditempatkan di ruang bawah tanah bersama dengan empat siswa internasional lainnya.

"Kamar saya tak benar-benar seperti kamar pada umumnya. Itu seperti ruang penyimpanan di belakang garasi. Anda tak bisa benar-benar membuka jendela," ceritanya.

Selain itu, Lok juga mengatakan “makanannya sangat tidak enak”. Kondisi hidup yang buruk membuat ia percaya tuan rumah yang menjalankan ‘homestay’ berusaha untuk menghemat biaya sewa 1.000 dolar tersebut.

“Saya rasa, itulah yang semua orang lakukan sebenarnya -tiap homestay lainnya. [Mereka] menghemat lebih dengan mengeluarkan sedikit biaya untuk para siswa," tudingnya.

Lok akhirnya pindah saat orang tuanya berkunjung dan mendapati akomodasi yang “mengerikan” itu.

[MZ]
Share on Google Plus
    Komentar Anda
    Komentar Menggunakan Facebook

0 comments :

Post a Comment