Di Australia, Jeroan Digunakan Untuk Pakan Hewan dan Barang Buangan

image : finance.detik.com


INDOAU.COM – Jeroan sapi yang sebelumnya dilarang masuk ke Indonesia, kini pemerintah Indonesia membuka impor jeroan tersebut demi menekan harga daging sapi hingga di bawah Rp 80.000/kg.

Namun,  dokter ahli gizi, dr Marzuki, mengatakan bahwa masuknya jeroan impor akan membuat konsumsi jeroan masyarakat pun meningkat, dan berdampak pada memburuknya kesehatan masyarakat secara umum akibat mengkonsumsi .

"Dibandingkan dengan negara di luar, jeroan itu banyak dilarang sekali untuk dikonsumsi, makanya dipisahkan. Kalau di Indonesia malah dikonsumsi, nggak dipikirkan kolesterol jeroan yang tinggi," terang Marzuki, dilansir dari detikFinance, Rabu (13/7/2016).

Bukannya memberi kesehatan dan menurunkan harga, jeroan sapi justru bisa memicu kolesterol.

"Makanya orang luar, dan kita sendiri pantang konsumsi jeroan. Baik itu babat, paru, jantung. Sate padang yang benar pun dari daging, bukan pakai jeroan. Semakin banyak orang kolesterol," jelas dosen ahli gizi di Politeknik Kesehatan Jakarta II ini.

Menurutnya, hal itulah yang menyebabkan negara lain seperti  Australia jarang mengkonsumsi jeroan.

"Kenapa jeroan jarang dikonsumsi orang luar, karena itu sumber kolesterol. Memang ada kandungan protein, tapi itu kecil," ujar Marzuki.

Di Australia, jeroan merupakan barang buangan dari industri peternakan. Sehingga, jeroan dijual dengan harga murah.

"Jeroan kan intinya daging impor yang tidak dimakan di negara asalnya, barang buangan sehingga harganya murah," kata Joni Liano, Direktur Eksekutif Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo), Rabu (13/7/2016).

Selain itu, di Australia jeroan juga biasa dipakai untuk pakan hewan dan permintaan untuk konsumsi sangat sedikit.

"Jeroan di Australia nggak gratis, tapi murah. Orang sana kan nggak makan jeroan, tapi yang makan orang Asia yang di sana. Yang makan jeroan hanya orang Asia yang di Australia, kan di sana banyak orang Asia," terang Joni.

[MZ]
Share on Google Plus
    Komentar Anda
    Komentar Menggunakan Facebook

0 comments :

Post a Comment