Obesitas yang Dialami Sang Ayah dapat Diturunkan pada Anaknya

image : merdeka.com


INDOAU.COM – Para ilmuwan dari Institut Victor Chang dan Institute Penelitian Medis Garvan di Sydney, menemukan bahwa obesitas yang dialami seorang ayah dapat diwariskan tak hanya pada anaknya, namun juga generasi mendatang.

Penelitian menggunakan tikus yang diterbitkan dalam jurnal ‘Molecular Metabolism’ itu menemukan bahwa keturunan ayah yang obesitas mengalami masalah kesehatan, seperti risiko terkena penyakit metabolik yang lebih besar, lebih cepat ketika mengonsumsi makanan yang tak sehat.

Dr Jennifer Cropley dari Institut Victor Chang, sebagai penulis utama dalam studi ini mengatakan bahwa temuan ini dapat membantu menjelaskan peningkatan diabetes, penyakit jantung dan obesitas pada manusia.

"Ayah yang kegemukan dan kebal, bisa benar-benar membuat anak mereka mengembangkan sindrom metabolik sendiri," terang Dr Jennifer.

"Sekarang begini, jika ayah kelebihan berat badan, itu benar-benar bisa mempengaruhi kesehatan anak-anak mereka," sambungnya.

"Jadi kami mengamati keturunan dari ayah (tikus) yang kelebihan berat badan dan mereka memiliki anak sendiri. Kami menemukan bahwa cucu dari kakek yang kelebihan berat badan itu juga mendapat warisan untuk mengembangkan sindrom metabolik - yang adalah diabetes tipe 2," jelasnya.

"Hal yang menarik adalah itu bukanlah DNA –tikus yang kami gunakan semuanya identik secara genetik sehingga gen yang diwariskan dari ayah ke anak adalah sama dalam setiap kasus," sebut Dr Jennifer.

"Jelas itu adalah sesuatu yang harus melalui sperma karena sperma-lah yang diturunkan dari ayah ke anak,” imbuhnya.

"Sampai saat ini, diduga bahwa semua yang ada di sperma adalah DNA, gen, tapi kami mulai menyadari bahwa ada juga molekul lain di sana."

"Kami menemukan perubahan dalam molekul yang sangat kecil yang disebut RNA tanpa pengkodean di dalam sperma ayah yang obesitas, dan kami pikir itulah yang mungkin menimbulkan risiko penyakit ini dari generasi ke generasi," kemukanya.

Yang menjadi fokusnya saat ini adalah penentuan mekanisme transmisi.

"Jika kami bisa menemukan perubahan molekul dalam sperma tikus-tikus ini, kami mungkin bisa lanjut dan melihat jenis yang sama dari perubahan molekul pada manusia dan bertanya apakah hal yang sama seperti itu terjadi, dan karenanya apakah jenis predisposisi yang mungkin diteruskan. Itu langkah berikutnya, " urainya.

[FY]


Share on Google Plus
    Komentar Anda
    Komentar Menggunakan Facebook

0 comments :

Post a Comment