Sidang Kematian Mirna Memanas, Jaksa Persoalkan Visa Ahli Australia

image : youtube.com


INDOAU.COM – Sidang kasus pembunuhan terhadap Wayan Mirna Salihin yang ke-18 digelar Senin (5/9/2016) di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dengan mendengarkan keterangan saksi ahli dari Australia.

Sidang yang berlangsung hingga malam hari itu sempat memanas saat jaksa penuntut umum (JPU) diberi kesempatan untuk bertanya kepada ahli patologi forensik Profesor Dr Beng Beng Ong. Bukannya menanyakan terkait materi persidangan, jaksa tersebut malah mempersoalkan visa yang digunakan oleh ahli bersaksi di Indonesia.

"Apa maksud kedatangan ahli ke Indonesia," tanya JPU Ardito Muwardi.

"Saya berkomunikasi sama Pak Otto (Pengacara Jessica, Otto Hasibuan) mengenai kasus ini. Saya diberi informasi, setelah mempelajari dan menganalisis, saya beri tahu Pak Otto bahwa saya dapat membantunya," jawab Ong melalui penerjemah yang mendampinginya.

Kemudian Ardito menanyakan kapan ahli tersebut tiba di Indonesia dan menggunakan visa jenis apa. Pertanyaan tersebut sontak mengundang respons keras dari Otto Hasibuan.

"Maaf yang mulia, saya kira pertanyaan keluar konteks," tegas Otto.

Suasana pun memanas, Baik JPU maupun tim pengacara Jessica bersitegang mengenai pertanyaan ini. Para pengunjung yang hadir pun kemudian bersorak.

Majelis hakim yang dipimpin Kisworo mencoba menengahi. Majelis meminta agar kedua pihak dapat menahan diri.

Kisworo pun mempersilahkan ahli untuk menjawab pertanyaan JPU.

"Saya sampai hari Sabtu, tanggal 3 September 2016. Menggunakan visa kunjungan," jawab Ong.

"Apakah saudara sebagai ahli mendapatkan fee (bayaran) dari kuasa hukum?" ucap Ardito yang sontak disambut sorakan pengunjung.

"Yang mulia, ini sama sekali tidak relevan, tidak menyentuh ke materi pernyataan ahli. Mana ada experts yang tidak dibayar?" ucap Otto menyampaikan keberatannya.

Mendengar ucapan Otto yang keberatan itu, JPU langsung menjelaskan mengapa menanyakan hal di luar materi persidangan kepada ahli. Hal tersebut dilakukan untuk memastikan bahwa ahli yang dihadirkan dari Australia ini tidak melanggar UU Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian.

"Dalam undang-undang jelas disebutkan, visa kunjungan hanya untuk kegiatan di luar pekerjaan. Kalau bekerja, harus pakai visa tinggal terbatas. Bagaimana bisa kita mempercayai ahli kalau datangnya saja ilegal," ucap jaksa.

"Ini sangat tidak etis, yang mulia. Saya sebagai pengacara beberapa kali ke Singapura dan Jepang, tidak pernah dipermasalahkan soal visa kunjungan ini. Apalagi ahli ini, jauh-jauh dari Australia, melaksanakan kewajibannya di sini untuk menegakkan keadilan. Mohon kebijakannya, yang mulia," ujar Otto menanggapi.

Perdebatan pun terus berlanjut dalam beberapa saat. Suasana yang memanas itu diwarnai sorakan dan ‎tepuk tangan pengunjung yang hadir.

JPU berkeyakinan bahwa ahli harus menggunakan visa tinggal terbatas dalam rangka melaksanakan pekerjaannya sebagai konsultan ahli. Sementara menurut pihak kuasa hukum Jessica  hal itu tidak perlu. Apalagi, ahli tersebut pernah bekerja sebagai tim forensik dalam kasus bom Bali beberapa waktu lalu. Bahkan Ong mendapatkan penghargaan dari Polri atas kerja kerasnya itu. Dan Ong tidak pernah dipermasalahkan visa kunjungannya.

Majelis hakim sempat berunding hingga akhirnya diputuskan bahwa Ong tetap berstatus sebagai saksi ahli di persidangan ini. Ong pun dipersilahkan untuk melanjutkan keterangannya.

"Andaikan JPU keberatan, ini seharusnya disampaikan di awal, bukan di akhir. Jadi kita lanjutkan. Keberatan JPU, akan kami catat. Mengenai pelanggaran, itu kewenangan jaksa untuk memidanakannya," ucap hakim Kisworo.

[JA]
Share on Google Plus
    Komentar Anda
    Komentar Menggunakan Facebook

0 comments :

Post a Comment